Analisis Fenomena Festbuk SMAN 1 Singgahan dalam Bingkai CBL, Pembelajaran Interdisipliner dan Society 5.0 oleh Mohdi Prabowo
Kalau bicara soal Festbuk (Festival Bukit) di SMAN 1 Singgahan, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada kemeriahan panggung, deretan stan bazaar, atau riuhnya tepuk tangan penonton. Tapi, kalau kita mau sedikit “menyelam” lebih dalam, festival ini sebenarnya bukan cuma soal hura-hura tahunan. Festbuk adalah ruang pamer bagaimana kurikulum modern yang seringkali terdengar rumit di teori bisa dipraktikkan secara asyik lewat Competency-Based Learning (CBL) dan Pembelajaran Interdisipliner.
Coba kita perhatikan cara kerja Festbuk. Di sini, siswa nggak lagi “dihakimi” cuma lewat angka-angka di atas kertas ujian. Festbuk menerapkan esensi dari Competency-Based Learning, di mana kemampuan siswa diukur lewat karya nyata yang mereka tunjukkan. Mau itu akting di panggung ketoprak atau mengelola logistik acara, semuanya adalah pembuktian kompetensi. Sejalan dengan kerangka kerja dari U.S. Department of Education , pendidikan berbasis kompetensi memang fokus pada mastery atau penguasaan keterampilan nyata, bukan cuma berapa lama siswa duduk di dalam kelas.
Serunya lagi, Festbuk sukses merobohkan tembok-tembok kaku antarmata pelajaran. Di dunia nyata, masalah itu nggak pernah datang dalam bentuk soal “Biologi saja” atau “Ekonomi saja”. Semuanya campur aduk. Nah, di Festbuk, siswa dipaksa untuk berpikir lintas ilmu atau interdisipliner. Saat mengelola bazaar, misalnya, mereka harus jago berhitung modal (Matematika), pintar merayu pembeli (Bahasa), sekaligus kreatif menata stan (Seni). Pendekatan “gado-gado” ilmu ini justru yang bikin otak kita lebih tajam. Seperti riset dari Harvard Project Zero, kemampuan menghubungkan berbagai disiplin ilmu adalah kunci untuk melahirkan inovasi.
Lalu, apa hubungannya dengan Society 5.0 yang sering diomongkan orang? Singkatnya, Society 5.0 adalah visi masa depan di mana teknologi super canggih harus tetap berjalan berdampingan dengan nilai-nilai kemanusiaan (Cabinet Office Japan). Festbuk adalah latihan mental untuk itu. Di tengah gempuran AI dan digitalisasi, siswa SMAN 1 Singgahan diingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Jiwa utamanya tetap pada kreativitas, gotong royong, dan kearifan lokal.
Di era Society 5.0, robot mungkin bisa bikin laporan keuangan, tapi robot nggak punya empati untuk kolaborasi tim atau rasa bangga saat melestarikan budaya lokal. Inilah yang oleh World Economic Forum disebut sebagai top skills masa depan: complex problem solving dan social influence (The Future of Jobs Report 2023).
Akhirnya, Festbuk bukan lagi sekadar pesta di atas bukit. Ia adalah janji masa depan. Lewat festival ini, SMAN 1 Singgahan sedang membuktikan bahwa belajar itu bisa sangat manusiawi, sangat terukur, dan—yang paling penting—sangat relevan dengan tantangan zaman. Dari bukit ini, para siswa sedang bersiap bukan hanya untuk lulus sekolah, tapi untuk menaklukkan dunia dengan cara mereka sendiri. (imohdy/red)
Lebih lengkap kunjungi website festbuk di https://festbuk.sman1singgahan.sch.id/







