Desember 2023: Kematian Musisi atau Kelahiran Budak Algoritma?

Oleh: Mohdi Prabowo

Tahun 2009 merupakan masa yang penuh pembelajaran bagi saya ketika mulai menyentuh dunia digital melalui FL Studio saat awal duduk di bangku kuliah. Meskipun saya dapat dikatakan masih orang baru dalam dunia musik jika dibandingkan dengan para maestro yang sudah bergelut puluhan tahun, pengalaman itu sudah cukup memberikan saya gambaran tentang betapa besarnya pergeseran teknologi. Perangkat lunak yang sering kita sebut sebagai Digital Audio Workstation atau DAW ini menjadi dapur tempat saya mulai belajar meramu imajinasi menjadi bunyi. Saat itu, saya memiliki sebuah proyeksi liar semacam gambaran berani yang melintasi pikiran—bahwa suatu saat musik akan menjadi sangat aksesibel sehingga kita tidak perlu lagi menyewa studio rekaman yang dakik atau terlalu rumit dan mahal. Cukup dengan bermodal PC serta instrumen virtual yang sering disebut sebagai plugin, siapa pun seharusnya bisa bercerita melalui nada.

Proyeksi liar tersebut ternyata benar-benar menjadi kenyataan dengan munculnya gelombang seniman baru yang mampu berkarya secara mandiri tanpa harus bergantung pada label besar atau rumah produksi kondang. Era keemasan kelompok band pun perlahan mulai bergeser ke arah penyanyi solo atau produser kamar yang mampu menghasilkan karya berkualitas dari meja mereka sendiri. Namun, apa yang terjadi di penghujung tahun 2023 melalui kehadiran Suno AI ternyata jauh melampaui imajinasi saya yang terbatas ini. Jika dulu teknologi DAW tetap memposisikan kita sebagai arsitek yang harus telaten menyusun setiap nada di layar monitor, kini kecanggihan AI justru menggeser peran manusia menjadi sebatas sutradara atau pengarah saja.

Perubahan ini terasa sangat drastis bagi saya karena kini seseorang yang mungkin tidak memahami teori musik sekalipun dapat melahirkan sebuah lagu lengkap hanya melalui perintah teks. Hal ini membuat saya merasa bahwa kita kini berada pada masa di mana setiap karya musik yang lahir setelah Desember 2023 memikul tantangan moral yang baru. Jika sebelumnya sebuah lagu merupakan hasil pergulatan manusia di depan instrumen atau DAW, maka saat ini garis batas antara keaslian rasa dan hasil komputasi mesin menjadi sangat sulit untuk dibedakan oleh telinga awam.

Sebagai orang yang masih terus belajar mencintai musik, fenomena ini membawa saya pada sebuah perenungan tentang nilai sebuah kejujuran dalam berkarya. Di tengah banjirnya audio yang dihasilkan oleh algoritma, yang tersisa bagi kita hanyalah integritas yang dipertaruhkan demi menjaga keaslian sebuah ekspresi. Perkembangan teknologi memang sebuah gelombang yang tidak mungkin bisa kita hindari atau tolak, namun saya merasa penting untuk tetap mempertahankan sisi kemanusiaan dalam setiap proses kreatif yang kita lalui.

Masa depan musik mungkin akan terus melaju sejalan dengan teknologi yang semakin ngeri, tetapi integritas akan tetap menjadi benteng terakhir yang memisahkan antara sebuah karya seni yang lahir dari hati dan sekadar hasil simulasi. Saya lebih memilih untuk tetap menghargai proses yang lambat dan manual dalam menyusun melodi, karena meski saya bukan siapa-siapa di industri ini, saya percaya bahwa keindahan musik yang sejati terletak pada kejujuran proses dan niat yang ada di belakangnya. (iMohdy/red)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top