Menjemput Gairah Belajar Gen Z

Seni Budaya di Persimpangan Generasi
oleh: Mohdi Prabowo

Menjadi pengajar Seni Budaya di era sekarang menghadirkan dilema yang unik. Ada kalanya saya berdiri di depan kelas dan merasa seperti sedang berbicara dengan frekuensi yang berbeda. Di satu sisi, saya membawa nilai-nilai estetika dan tradisi yang adiluhung, namun di sisi lain, tatapan mata murid-murid saya lebih sering tertuju pada layar gadget yang menawarkan visual instan, dinamis, dan penuh warna. Muncul sebuah pertanyaan di benak saya: Apakah seni memang mulai kehilangan daya tariknya, atau kita yang sedang gagap menerjemahkan bahasa keindahan kepada mereka?

Realitanya, Gen Z bukannya tidak menyukai seni. Mereka adalah generasi yang paling banyak mengonsumsi dan memproduksi konten visual setiap harinya. Bagi mereka, seni bukan lagi sekadar lukisan di atas kanvas atau tarian di atas panggung formal; seni adalah skin di dalam game, video transisi di TikTok, hingga desain antarmuka aplikasi yang mereka gunakan. Tantangan bagi saya sebagai pendidik adalah bagaimana menjembatani kurikulum konvensional dengan realitas digital yang menjadi “napas” mereka.

Saya mulai menyadari bahwa peran saya harus bergeser. Saya tidak lagi bisa menjadi satu-satunya sumber otoritas keindahan di kelas. Saya harus berani menjadi fasilitator, bahkan menjadi “sahabat” yang menemani eksplorasi mereka. Jika mereka lebih tertarik pada desain digital daripada kuas manual, mengapa tidak kita beri ruang? Jika mereka lebih suka membuat remix musik lewat aplikasi ponsel daripada menghafal tangga nada di buku, bukankah itu juga bagian dari proses kreatif? Seni harus terasa relevan dan memiliki dampak nyata bagi identitas mereka di dunia digital maupun nyata.

Mengajar Seni Budaya pada akhirnya adalah tentang menjaga api kreativitas tetap menyala, meski medianya terus berubah. Dengan memberikan kebebasan yang terarah, umpan balik yang cepat, dan menyisipkan elemen permainan dalam belajar, saya percaya gairah itu akan kembali. Tugas kita bukan lagi sekadar meminta mereka “melihat” seni, tapi mengajak mereka “mengalami” seni dengan cara mereka sendiri. Karena pada akhirnya, esensi seni adalah tentang ekspresi jiwa tidak peduli apakah itu goresan kuas atau ketukan jari di layar sentuh.

“Menurut rekan-rekan pengajar, bagaimana cara kalian menghadapi perubahan gaya belajar siswa saat ini?” (iMohdy/red)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top