Seni Merawat Reputasi di Atas Puing-Puing Potensi

Di dunia seni peran, ada satu jenis aktor yang paling merepotkan: mereka yang telanjur jatuh cinta setengah mati pada peran “Si Paling Baik”. Di mata penonton, senyumnya selalu ramah dan tutur katanya selalu lembut. Ia selalu mendapat tepuk tangan paling meriah. Namun, bagi para kru dan pemain lain di balik layar, bekerja dengannya adalah ujian kesabaran tingkat tinggi.

Sebuah pementasan yang hebat sejatinya membutuhkan naskah dan arah cerita yang jelas. Sayangnya, aktor jenis ini sering kali lupa pada naskah. Seakan ia tidak punya tujuan cerita, atau mungkin tujuan ceritanya sekadar berbeda dengan sutradara dan kru lainnya.

Seni Membajak Panggung

Demi menjaga label sebagai ‘tokoh protagonis yang sempurna’, segala cara dihalalkan. Tata panggung yang seharusnya bisa ditata sedemikian rupa untuk menciptakan pertunjukan yang megah, justru diotak-atik dengan trik manipulasi yang membuat dahi berkerut. Posisi pemain lain digeser, lampu sorot dipaksa hanya mengarah padanya.

Banyak sekali properti dan bakat dari pemeran pendukung yang sebenarnya bisa dieksplorasi agar pementasan terlihat cantik. Namun, alih-alih mengoptimalkan apa yang ada, sang aktor lebih suka bermain dengan pola-pola aneh yang hanya menguntungkan porsi tampilnya sendiri.

Monolog di Ruang Kedap

Teater adalah seni kolektif. Ia hidup dari sahut-sahutan dialog, dari kerja sama antara penata musik, penata cahaya, hingga para pemeran pembantu. Anehnya, sang aktor utama ini justru memiliki komunikasi yang sangat buruk. Boro-boro membahas profesionalisme di atas panggung, sekadar berbasa-basi di ruang ganti pun terasa hambar.

Hal-hal krusial yang seharusnya dilatih bersama dengan melibatkan seluruh elemen panggung justru dilewati begitu saja. Ia menolak latihan gabungan. Ia mengabaikan lawan mainnya.

Yang terjadi kemudian di atas panggung bukanlah sebuah harmoni, melainkan tontonan ego. Ibarat seseorang yang asyik memeluk dirinya sendiri, mabuk kepayang oleh suara dan pantulan bayangannya sendiri di cermin. Ia merasa sudah mencapai puncak kepuasan, tanpa peduli bahwa ada cara-cara elegan dan kolaboratif yang jauh lebih bisa memuaskan dahaga seni semua orang.

Turun Minum

Lalu, apa yang dirasakan oleh para pemain dan kru yang berada di panggung yang sama? Tentu saja lelah, dirugikan, dan sangat tidak nyaman. Terutama mereka yang sejak awal banting tulang merancang sistem agar panggung tidak rubuh.

Menonton seorang aktor yang terlalu asyik dengan monolognya sendiri memang membosankan. Pada akhirnya, ketika pertunjukan sudah berubah menjadi sekadar panggung pemuasan ego tunggal, tidak ada salahnya bagi pemain lain untuk perlahan melangkah ke balik tirai, meletakkan kostum, dan mencari pementasan lain. Pementasan yang mungkin lebih sepi, tapi setidaknya semua orang di sana tahu ke mana arah cerita akan dibawa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top