Oleh: Mohdi Prabowo
Pagi ini, Sang Saka Merah Putih kembali dinaikkan perlahan membelah langit Oktober. Sebagai abdi negara di ranah pendidikan, berdiri di lapangan upacara pada momen seperti ini bukanlah sekadar menjalankan rutinitas. Ada sebuah pengingat akan janji suci kepada republik ini. Hari ini, bangsa kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila, sebuah tonggak waktu untuk mensyukuri lestarinya falsafah hidup bangsa dari pusaran badai besar yang pernah nyaris mencabut akarnya.
Namun, menjadi pendidik dan bagian dari masyarakat yang terus belajar berarti memikul tugas untuk tidak hanya merawat ingatan, tetapi juga memahaminya dengan kedalaman hati dan kejernihan akal. Ketika kita mencoba menengok kembali pada kabut sejarah lebih dari setengah abad silam, kita dihadapkan pada lembaran perjalanan bangsa yang tidak sekadar berwarna hitam dan putih. Ada nuansa-nuansa kelabu yang menyelimutinya.
Kita menyadari bahwa pusaran tahun 1965 adalah sebuah badai yang lahir dari bertemunya berbagai arah mata angin. Badai itu tidak muncul tiba-tiba; ia adalah akumulasi dari friksi tajam antaranak bangsa, eksperimen politik yang mencoba menyatukan kutub-kutub yang saling menolak, hingga tarikan kuat dari gelombang pertarungan geopolitik global yang tengah membelah dunia saat itu. Di tengah impitan kepentingan-kepentingan raksasa tersebut, perahu republik ini terombang-ambing dengan hebat.
Ancaman terhadap keutuhan negara dan ideologi pada masa itu adalah sebuah realitas yang tak bisa dipungkiri. Pemikiran radikal yang membelah masyarakat dan meminggirkan nilai-nilai luhur ketuhanan jelas tidak memiliki ruang di tanah air kita. Tindakan-tindakan gegabah dari segelintir elite politik kala itu telah memantik krisis yang mengancam sendi-sendi kebangsaan.
Meski demikian, badai tersebut pada akhirnya menyapu jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Bak pepatah, ketika gajah-gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Di balik hiruk-pikuk pergantian sejarah, ada ribuan cerita sunyi di desa-desa—tentang mereka yang mungkin tak pernah benar-benar memahami intrik kekuasaan di ibu kota, namun harus ikut tersapu oleh gelombang amarah dan kecurigaan. Sejarah senantiasa mengajarkan kita bahwa ketika sebuah bangsa terjebak dalam bayang-bayang ketakutan dan pertikaian, kemanusiaan sering kali menjadi harga yang paling berdarah untuk dibayar.
Bagi kita yang hidup di masa kini, ujian terbesarnya bukanlah tentang mencari siapa yang paling berkuasa di masa lalu, melainkan bagaimana kita merawat kemanusiaan itu sendiri ke depannya. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terasa begitu menggema di tengah ingatan tentang masa-masa kelam. Sebuah bangsa yang besar dan dewasa tentu tidak akan merajut masa depannya di atas anyaman dendam. Sebaliknya, bangsa yang besar berani menatap luka masa lalunya sebagai pelajaran tak ternilai, agar tragedi serupa tak lagi mendapat tempat untuk tumbuh.
Oleh karena itu, memaknai Kesaktian Pancasila di era kiwari bukanlah semata-mata merayakan kejayaan masa lalu. Kesaktian sejati dari Pancasila justru terletak pada kemampuannya menjadi pelita yang tak kunjung padam—sebuah leitstar (bintang penunjuk arah) yang merengkuh kembali kepingan-kepingan bangsa yang pernah retak. Kesaktian itu baru akan benar-benar terwujud ketika negara mampu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, meminimalkan ketimpangan, dan menutup rapat segala celah yang bisa digunakan untuk mengadu domba anak bangsa.
Sebagai seorang guru, tugas ke depan adalah menuntun generasi penerus untuk mencintai Indonesia secara utuh. Mencintai tanah air bukan dengan fanatisme yang buta, melainkan dengan rasionalitas yang jernih, keluhuran budi, dan jiwa yang memegang teguh Pancasila sebagai napas perdamaian. Kita menjaga tegaknya republik ini dengan memastikan bahwa bingkai kemanusiaan dan keadilan selalu berada di tempat yang paling tinggi. (myp/red)

