Oleh:
Mohdi Prabowo
Festival Bukit SMA Negeri 1 Singgahan pertama kali disusun pada awal tahun 2018 dengan semangat untuk menciptakan ruang ekspresi dan pengembangan potensi siswa di bidang seni dan budaya. Pada masa itu, konsep Guru Penggerak yang saat ini menjadi salah satu tonggak transformasi pendidikan di Indonesia belum diperkenalkan. Meski demikian, sejak awal penyelenggaraannya, Festival Bukit telah memegang prinsip-prinsip pembelajaran yang kini menjadi bagian penting dalam program Guru Penggerak, seperti pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), penguatan karakter, dan pengembangan keterampilan abad 21. Hal ini menunjukkan bahwa festival ini telah selaras dan linear dengan visi pendidikan yang menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran.
Sebagai kegiatan yang berbasis proyek, Festival Bukit ke-8 pada tahun 2025 semakin mempertegas komitmennya dalam menjadi ruang pembelajaran yang holistik dan bermakna. Melalui keterlibatan siswa kelas 11 sebagai panitia penyelenggara, festival ini mendorong mereka untuk mengembangkan kompetensi sosial emosional yang mencakup lima aspek utama: kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Dalam praktiknya, kesadaran diri siswa terbangun saat mereka mengenali potensi dan minat mereka dalam berbagai peran, seperti menjadi ketua panitia, koordinator divisi, atau anggota tim kreatif. Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan diri, mereka mampu memilih peran yang sesuai dan berkontribusi secara maksimal.

Discuss
Pengelolaan diri menjadi keterampilan yang sangat terasah selama persiapan dan pelaksanaan festival. Dengan jadwal yang padat, tuntutan kerja sama tim, dan harapan akan hasil yang baik, siswa belajar mengelola waktu, emosi, dan tekanan dengan bijak. Misalnya, saat terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan konsep acara atau pembagian tugas, mereka dituntut untuk tetap tenang, mencari solusi yang adil, dan menjaga semangat tim tetap positif. Kemampuan ini tidak hanya berguna dalam konteks penyelenggaraan acara, tetapi juga menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka di masa mendatang.
Aspek kesadaran sosial pun menjadi bagian tak terpisahkan dalam kegiatan ini. Melalui interaksi dengan berbagai pihak, seperti guru pembimbing, teman seangkatan, seniman lokal, dan sponsor, siswa belajar memahami kebutuhan, harapan, dan pandangan orang lain. Contohnya, dalam mengatur jadwal latihan dan persiapan, mereka harus mempertimbangkan ketersediaan waktu semua pihak dan memastikan setiap orang merasa didengar dan dihargai. Kemampuan ini melatih empati dan kepekaan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih jauh, keterampilan relasi yang dibangun melalui kerja sama tim menjadi kekuatan utama dalam keberhasilan festival ini. Siswa belajar berkomunikasi dengan efektif, menyampaikan ide dengan jelas, dan mendengarkan masukan dengan terbuka. Dalam koordinasi antar divisi, seperti tim dekorasi, tim acara, dan tim dokumentasi, mereka harus menjaga alur informasi tetap lancar dan memastikan setiap bagian bekerja sesuai rencana. Proses ini melatih mereka untuk membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama.

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab menjadi aspek yang paling menonjol dalam penyelenggaraan Festival Bukit ke-8. Dengan sumber dana yang berasal dari dana BOS, sumbangan, dan kontribusi sponsorship, siswa dilatih untuk mengelola anggaran dengan transparan dan efisien. Ketika harus memilih antara menyewa perlengkapan panggung yang mahal atau membuat sendiri dengan kreativitas tim, mereka mempertimbangkan manfaat jangka panjang dan dampak keputusan tersebut terhadap kualitas acara. Proses ini menanamkan nilai-nilai tanggung jawab, kejujuran, dan keberpihakan pada kepentingan bersama.
Selain penguatan kompetensi sosial emosional, Festival Bukit juga menjadi sarana pengembangan student agency atau kepemimpinan murid. Konsep ini menekankan tiga pilar utama: voice (suara), choice (pilihan), dan ownership (kepemilikan). Dalam festival ini, siswa diberi kebebasan untuk menyuarakan ide dan aspirasi mereka, baik dalam pemilihan tema, konsep acara, maupun strategi pelaksanaan. Misalnya, usulan untuk menampilkan kolaborasi seni tradisional dan modern muncul dari diskusi antar siswa yang kemudian disepakati melalui musyawarah.
Pilihan peran yang sesuai minat dan bakat menjadi bentuk implementasi pilar choice. Siswa dapat memilih menjadi bagian dari tim yang mereka rasa mampu mereka kembangkan, seperti tim kreatif, tim logistik, atau tim humas. Dengan pilihan ini, mereka merasa lebih termotivasi dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas mereka. Pilar terakhir, ownership, terwujud melalui rasa kepemilikan yang kuat terhadap festival ini. Mereka tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga pencipta dan pengambil keputusan yang berkontribusi langsung pada keberhasilan acara.

Festival Bukit ke-8 juga sangat relevan dengan Modul 2.3: Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin Pembelajaran dalam program Guru Penggerak. Dalam setiap keputusan yang diambil, siswa dilatih untuk mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan seperti integritas, empati, keadilan, dan tanggung jawab. Ketika menghadapi situasi sulit, seperti keterbatasan anggaran atau perubahan jadwal mendadak, mereka berusaha mencari solusi yang adil dan menguntungkan semua pihak.
Kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan keterampilan abad 21, seperti kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan pemikiran kritis. Dalam menyusun konsep acara, siswa ditantang untuk berpikir kreatif dan inovatif, mencari ide yang segar dan relevan dengan tema yang diusung. Proses diskusi dan musyawarah melatih mereka untuk menyampaikan pendapat dengan jelas, mendengarkan argumen orang lain, dan mencapai kesepakatan melalui kompromi yang konstruktif.
Sebagai bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Keberwirausahaan, Festival Bukit ke-8 juga menanamkan jiwa kewirausahaan pada siswa. Mereka belajar merancang kegiatan yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki potensi ekonomis dan berkelanjutan. Misalnya, dengan menjual merchandise hasil karya siswa atau membuka stan kuliner lokal, mereka belajar mengelola usaha kecil dengan memperhatikan aspek perencanaan, promosi, dan pelayanan.

Dengan seluruh aspek pembelajaran yang terintegrasi dalam Festival Bukit ke-8, SMA Negeri 1 Singgahan menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan potensi dan karakter siswa. Melalui penguatan kompetensi sosial emosional, student agency, pengambilan keputusan berbasis nilai kebajikan, dan keterampilan abad 21, festival ini menjadi model pembelajaran holistik yang membekali siswa dengan keterampilan hidup yang esensial.
Festival ini menjadi bukti bahwa pembelajaran yang bermakna tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang melibatkan kreativitas, kerja sama, dan tanggung jawab. Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk mengembangkan program serupa yang mendukung pembelajaran berbasis proyek dan penguatan karakter siswa. Dengan begitu, pendidikan di Indonesia akan semakin maju, melahirkan generasi yang berdaya, mandiri, dan berkarakter mulia.












