Aku tidak pernah bermimpi berada di posisi saat ini, yaitu menjadi seorang guru di sekolah menengah atas. Guru resmi disebut sebagai profesi sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada tanggal 30 Desember 2005. Sementara aku, mulai memilih dan menjalani hidup sebagai guru sejak Januari 2014, sekitar delapan tahun setelah undang-undang itu ditetapkan. Itu pun kupilih bukan atas inisiatif pribadi, melainkan karena aku memiliki sebuah tanda legal yang bisa kugunakan untuk menjadi guru, yaitu selembar ijazah S-1 di bidang pendidikan.
Berlatar belakang sarjana pendidikan yang kuperoleh dari salah satu jurusan di kampus yang menawarkan pola pikir ganda, aku masih ingat janji para pengajar kala itu. Mereka menyampaikan bahwa suatu saat aku dapat menekuni kompetensi di bidang seni pertunjukan, khususnya musik, atau menjadi seorang guru. Saat itu, aku abai pada mata kuliah yang mengandung muatan kependidikan atau keguruan. Sebagian besar mindset-ku condong ke seni pertunjukan yang kupikir memiliki proyeksi menarik dan menuntut kreativitas. Hal itu terbentuk dari lingkungan dan kesibukan harian yang memaksaku memandang panggung pertunjukan sebagai masa depan.
Masa depan yang dulu kupikirkan, kini sedang kujalani dengan arah yang berbalik. Kecenderungan yang semula condong ke seni pertunjukan, kini justru bergeser pada rutinitas sebagai seorang guru. Guru yang dulu sempat abai dan menyepelekan mata kuliah Psikologi Pendidikan saat masih duduk di bangku kuliah. Ya, Psikologi Pendidikan yang dulu kuikuti sekadar untuk lulus dan dapat nilai, tanpa pernah kubayangkan bahwa ilmu itulah yang kini menjadi senjata sehari-hari. Rasanya mungkin terlalu berlebihan jika disebut senjata, tapi tak apa.
Senjata yang beramunisikan teori belajar, karakteristik individu, motivasi, pengelolaan kelas, hingga diagnosis permasalahan belajar. Dulu, aku terlalu abai pada itu semua. Ibarat seorang prajurit yang membawa senapan ke medan tempur, namun lupa mengisinya dengan peluru. Mana bisa memenangkan pertempuran dengan kondisi seperti itu?
Saat ini, yang terjadi adalah aku terpaksa mengais mimis (amunisi jawa kuno) dari sisa-sisa peperangan. Namanya juga sisa, kondisinya tentu tak seideal amunisi baru, bahkan sering kali butuh banyak penyesuaian. Namun, aku adalah prajurit yang sudah terlanjur memegang senjata. Aku tidak akan membiarkan senjata ini kosong dan sekadar menjadi gimmick pelengkap dalam pertempuran.
Peperangan, mungkin istilah itu memang cocok untuk menggambarkan situasi saat ini. Bukan pertempuran untuk mencari siapa yang menang, kalah, atau menaklukkan musuh, melainkan peperangan menghadapi kompleksitas sistem dan dinamika kondisi yang ada di depan mata.
Di tengah riuhnya pertempuran ini, pesan ini ingin kusamampaikan kepada kalian yang saat ini sedang berada di masa perkuliahan dan bangku belajar, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi di ranah ilmu apa pun yang sedang kalian tekuni. Jangan pernah abai terhadap apa pun yang sedang kalian pelajari hari ini, sekecil atau semembosankan apa pun itu di mata kalian. Hidup sering kali punya cara yang unik sekaligus menggelikan untuk mengerjai kita. Apa yang hari ini kalian sepelekan, dihindari, atau bahkan tidak kalian inginkan, sangat mungkin justru menjadi kenyataan yang harus kalian hadapi di masa depan.
Sebab pada akhirnya, apa yang kita abaikan hari ini, sering kali menjadi hal yang terpaksa kita kejar mati-matian di kemudian hari. Jangan sampai kalian berdiri di medan pertempuran kehidupan nanti sebagai prajurit yang membawa senjata kosong, lalu sibuk mengais peluru sisa hanya karena dulu enggan mengisi magazin saat ada kesempatan. Persiapkan amunisimu sebaik-baiknya dari sekarang, sebelum masa depan menagihnya tanpa kompromi. (myp/red)


