Catatan Kecil untuk “Ndarung” Karya Eko Kasmo
Hari ini, Senin Legi 17 Agustus 2026 dunia seni berduka karena kehilangan sosok maestro yang mendedikasikan hidupnya untuk kesenian, Mas Eko Hardoyo atau yang juga akrab disapa Eko Kasmo. Kepergian beliau seketika memutar kembali ingatan saya pada sebuah memori berharga tentang karya kolaboratif yang luar biasa, yakni komposisi musik bertajuk “Ndarung”. Karya sarat makna tersebut tidak lahir dari ruang hampa, melainkan tumbuh dan diproses di Sanggar Seni Ngripto Raras, sebuah kawah candradimuka kesenian yang berakar kuat di Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Terdapat sebuah kebanggaan tersendiri melihat desa ini sekarang mendapatkan pengakuan dan branding sebagai Desa Wisata Budaya. Di dalam ekosistem sanggar di desa itulah bernaung sebuah komunitas bernama SOH yang sudah eksis sejak era 2000-an. Nama “SOH” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti ikatan atau tali penyatu sapu lidi. Layaknya lidi yang menjadi kuat karena diikat erat, komunitas ini hadir sebagai simbol persatuan yang menyatukan berbagai seniman dengan latar belakang berbeda untuk menjadi satu kekuatan solid dalam berkarya.
Di tengah kehangatan komunitas itulah, proses perekaman “Ndarung” dilakukan sekitar tahun 2010 atau 2011. Saat itu, saya masih berstatus sebagai mahasiswa program studi Sendratasik di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan diberi kepercayaan yang sangat berharga untuk mengisi instrumen saksofon. Terlibat langsung dalam proyek ini di bawah arahan Mas Eko Kasmo benar-benar meninggalkan jejak musikal yang mendalam di hati saya, terutama karena makna filosofis yang diusung dalam karyanya. Secara harfiah dan maknawi, kata Ndarung diartikan sebagai sebuah laku atau tindakan melakukan sesuatu secara terus-menerus dan telaten, tanpa dilandasi oleh niat, tujuan, atau tendensi yang negatif. Ketekunan tanpa pamrih inilah yang menjadi ruh utama komposisi, di mana lagu ini dengan berani menanggalkan deretan lirik puitis yang panjang. Sepanjang lagu, pendengar hanya akan disuguhkan satu bait kalimat yang diulang-ulang layaknya sebuah mantra, yakni “Jalani hidup seperti air mengalir, mengalir…”.
Pengulangan lirik tersebut secara persisten merepresentasikan hakikat perjalanan hidup manusia yang ibarat arus air. Terkadang ia mengalir tenang dan lancar, di waktu lain bisa mengalir deras tak terbendung, dan tidak jarang alirannya harus terbentur keras oleh bebatuan rintangan. Pesan filosofis agar kita tetap gigih berjalan menembus rintangan tanpa niat buruk ini kemudian diterjemahkan dengan sangat apik lewat aransemen musik kontemporer yang memikat. Dinamika dan tempo lagu dibangun melalui perkawinan silang berbagai instrumen lintas genre. Suara bonang dan gambang memberikan nyawa etnik serta pijakan tradisi Jawa yang magis, sementara drum dan keyboard membangun ritme kontemporer dengan spektrum harmoni yang luas. Nuansa ini semakin diperkaya oleh ketukan unik dari udu, sebuah alat musik perkusi yang memberikan tekstur ritmis bernuansa bumi (earthy), dan pada akhirnya disempurnakan oleh tiupan saksofon saya yang meliuk-liuk menyuarakan melodi luwes layaknya air.
Perpaduan harmonis dari berbagai instrumen tersebut sukses menciptakan dimensi musik yang mampu membawa siapa saja merenung dan menyelami hakikat kehidupan yang bergerak tiada henti. Kini, Mas Eko Kasmo mungkin telah menyelesaikan perjalanannya di dunia fana. Namun, dedikasinya di Sanggar Seni Ngripto Raras dan karya-karyanya, terutama pesona dari “Ndarung”, tidak akan pernah mati. Pesan tentang ketelatenan hidup yang telah beliau wariskan akan terus mengalir, menyentuh hati, dan abadi melampaui lekang oleh waktu. Selamat jalan, Mas Eko Kasmo, karyamu akan selalu mengalir abadi. (MYP/red)


