Wawancara Terbang Bancahan Desa Sukorejo Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban Narasumber: Mohdi Yulianto Prabowo

Sejarah dan Konteks Wilayah
Sejak kapan Terbang Bancahan masuk dan berkembang di Desa Sukorejo?
Berdasarkan data historis dan hasil penelusuran lapangan yang saya lakukan dalam penyusunan skripsi, kesenian Terbang Bancahan diperkirakan telah hadir dan mulai berkembang di Desa Sukorejo sejak tahun 1960-an. Namun, penting untuk dicatat bahwa perjalanan kesenian ini tidak berlangsung secara kontinu. Pasca masa awal perkembangannya, Terbang Bancahan sempat mengalami periode vakum atau stagnasi yang sangat panjang, yakni selama kurun waktu 39 tahun, terhitung sejak tahun 1970 hingga 2009. Kondisi ‘mati suri’ ini mengakibatkan terputusnya mata rantai regenerasi pemain. Upaya revitalisasi atau penghidupan kembali kesenian ini baru dimulai secara serius pada tahun 2009 oleh para tokoh masyarakat setempat. Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran akan hilangnya identitas budaya khas Sukorejo, mengingat saat itu hanya menyisakan sedikit praktisi yang masih memahami pakem aslinya.
Siapa sosok yang membawa kesenian ini ke Desa Sukorejo?
Berdasarkan penelusuran sejarah lisan dan dokumentasi yang saya himpun, sosok sentral yang membawa sekaligus memelopori perkembangan kesenian Terbang Bancahan di Desa Sukorejo adalah Bapak Markidin. Beliau merupakan figur kunci yang menginisiasi transmisi budaya ini ke lingkungan masyarakat Sukorejo. Jika ditinjau dari asal-usul geografisnya, kesenian ini secara historis berakar dari wilayah Kabupaten Lumajang. Bapak Markidin mengadaptasi pakem-pakem musikal dari daerah asal tersebut, yang kemudian dalam perkembangannya mengalami proses kontekstualisasi dan adaptasi dengan karakteristik sosiokultural masyarakat di Kecamatan Parengan, Tuban. Peran beliau sangat vital, tidak hanya sebagai pembawa materi musikal, tetapi juga sebagai mentor yang meletakkan landasan struktur permainan terbang yang kita kenal hingga saat ini di Desa Sukorejo.
Secara bentuk sajian, apakah ada perbedaan antara zaman dulu dengan sekarang?
Jika kita meninjau dari perspektif historis dan struktur musikalnya, terdapat pergeseran yang cukup signifikan pada bentuk sajian Terbang Bancahan antara masa awal kehadirannya dengan kondisi saat ini. Secara garis besar, perbedaannya terletak pada proses akulturasi yang semakin matang dan pola garap instrumennya. Pada zaman dahulu, kesenian ini mungkin lebih menonjolkan sisi religiusitas yang kental dengan pengaruh Timur Tengah yang dominan. Namun, dalam perkembangannya di Desa Sukorejo, terjadi perpaduan unsur kebudayaan yang lebih kompleks: 1. Integrasi Instrumen dan Vokal: Saat ini, penyajiannya merupakan perpaduan harmonis antara budaya Islam (Arab) dan Jawa. Hal ini terlihat dari penggunaan instrumen terbang dan syair-syair berbahasa Arab sebagai representasi budaya Islami, yang kemudian dipadukan dengan tembang-tembang atau syair berbahasa Jawa. 2. Sistem Pelarasan (Tuning): Salah satu perbedaan teknis yang paling mencolok adalah adaptasi sistem pelarasan. Meskipun menggunakan instrumen perkusi membranofon (terbang), masyarakat Sukorejo mengupayakan nada yang dihasilkan mendekati Laras Pelog seperti pada Karawitan Jawa. Ini menunjukkan adanya ‘Jawanisasi’ dalam aspek musikalitasnya. 3. Kompleksitas Ritme: Bentuk sajian saat ini memiliki struktur yang lebih teratur dengan adanya pembagian pola yang jelas, seperti Pola Kodokan yang dinamis sebagai inti sajian dan Pola Turun yang berfungsi sebagai kadens atau penutup simetris. 4. Dinamika Kelompok: Jika dulu mungkin lebih difokuskan pada fungsi syiar di langgar, kini penyajiannya juga mencakup aspek presentasi estetis yang lebih tertata untuk kebutuhan hajatan atau acara pemerintahan.
Apa makna kata “Bancahan” menurut narasumber?
Berdasarkan wawancara mendalam dengan para sesepuh dan pelaku kesenian di Desa Sukorejo, istilah ‘Bancahan’ memiliki dimensi makna yang sangat filosofis. Secara etimologis, narasumber menyebutkan bahwa kata ‘Bancahan’ berakar dari kosakata bahasa Jawa ‘Maca’ atau ‘Baca’. Namun, makna ‘membaca’ di sini perlu dipahami dalam dua tataran: Pertama, Makna Tekstual (Maca Syi’ir): Merujuk pada aktivitas para vokalis dan pemain dalam melantunkan teks-teks suci, pujian, dan sholawat yang tertulis dalam kitab-kitab bajanji atau naskah lama. Kedua, Makna Kontekstual (Membaca Keagungan): Ini adalah esensi utamanya. ‘Maca’ di sini berarti proses merenungi dan memahami kebesaran Sang Pencipta melalui media bunyi. Melalui getaran suara terbang dan kedalaman syair, pelaku dan pendengar diajak untuk ‘membaca’ atau menyadari eksistensi Tuhan. Selain itu, secara sosiokultural di masyarakat Tuban, istilah ini juga sering dikaitkan dengan semangat ‘Bancakan’ atau Syukuran. Hal ini merefleksikan bahwa kehadiran kesenian ini adalah bentuk ekspresi kolektif rasa syukur masyarakat atas segala nikmat yang diberikan Tuhan.
Fungsi Sosial dan Nilai
Apakah ada nilai dakwah atau pendidikan moral di dalamnya?
Tentu saja, nilai dakwah dan pendidikan moral merupakan inti filosofis atau core value dari kesenian Terbang Bancahan. Nilai-nilai tersebut termanifestasi dalam beberapa aspek: Internalisasi Nilai Tauhid: Melalui syair-syair puji-pujian (Sholawat) kepada Nabi Muhammad SAW dan pengagungan terhadap Allah SWT, kesenian ini menjadi media dakwah bil lisan yang efektif. Pendidikan Kerendahan Hati (Tawadhu): Suasana meditatif yang dibangun melalui ritme terbang yang repetitif mengajak pendengar dan pemainnya untuk melakukan introspeksi diri atau muhasabah. Harmonisasi Sosial: Pendidikan moral juga terlihat dari bagaimana kesenian ini menekankan pentingnya kerukunan dan kolektivitas. Tidak ada instrumen yang mendominasi secara egois; setiap pemain terbang harus saling menyimak dan mengisi (interlocking). Ini adalah cerminan dari nilai gotong royong dan keselarasan sosial.
Apa fungsi kesenian ini bagi masyarakat Sukorejo?
Bagi masyarakat Desa Sukorejo, Terbang Bancahan memiliki multifungsi: Fungsi Ritual dan Sakral: Berfungsi sebagai sarana upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia (pernikahan, khitanan) dan kalender keagamaan. Fungsi Integrasi Sosial (Media Komunikasi): Menjadi alasan bagi warga untuk berkumpul, menciptakan ruang interaksi yang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Fungsi Identitas Budaya dan Estetika: Sebagai simbol identitas yang memberikan rasa kebanggaan kolektif bagi masyarakat Sukorejo atas warisan budaya yang unik dan berbeda dari wilayah lain.
Dalam rangka apa biasanya kesenian ini diselenggarakan?
Penyelenggaraan Terbang Bancahan biasanya sangat erat hubungannya dengan siklus kehidupan manusia dan kalender hari besar keagamaan di Desa Sukorejo, antara lain: Hajatan Siklus Hidup: Meliputi acara pernikahan dan khitanan sebagai bentuk representasi rasa syukur keluarga penyelenggara. Ritual Peringatan Kematian: Seringkali ditampilkan dalam rangka tahlilan atau doa bagi keluarga yang telah berpulang. Peringatan Hari Besar Islam (PHBI): Seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi’raj, atau hari besar Islam lainnya. Aktivitas Keagamaan Lokal: Mengisi acara-acara pengajian rutin di langgar atau mushola sebagai pembuka acara atau pengiring sholawat.
Struktur Musikal
Instrumen apa saja yang digunakan dalam sajiannya?
Dalam satu set penyajian Terbang Bancahan di Desa Sukorejo, komposisi instrumennya terdiri dari beberapa instrumen perkusi membranofon dan vokal, yaitu: Enam Buah Terbang: Merupakan instrumen inti yang memiliki ukuran sedikit berbeda untuk menghasilkan jalinan ritmik yang saling mengisi (interlocking). Satu Buah Kendhang: Berfungsi sebagai Pamurba Irama atau pemimpin irama yang bertugas mengatur tempo (cepat atau lambatnya) permainan. Satu Buah Jidor (sejenis bedug kecil): Berfungsi sebagai Pemangku Irama yang memberikan aksen pada ketukan-ketukan tertentu, mirip dengan fungsi gong pada gamelan Jawa. Vokal (Penyanyi): Merupakan instrumen melodis utama yang membawakan syair-syair dalam bentuk tembang dengan cengkok perpaduan Arab dan Jawa.
Jenis terbang apa saja yang digunakan? Apakah ada peran masing-masing?
Meskipun secara visual tampak serupa, enam buah terbang yang digunakan memiliki variasi pada diameter dan ketegangan kulitnya untuk menghasilkan warna suara (timbre) yang berbeda-beda. Peran masing-masing terbang dibagi menjadi: Pancer/Dasar: Sebagai penjaga beat dasar agar irama tetap stabil. Penerus/Selingan: Bertugas mengisi sela-sela ketukan dasar dengan pola ritmik yang lebih rapat atau sinkopasi. Melodis Ritmik: Beberapa terbang melakukan pukulan yang bersahut-sahutan (imbal-imbalan) sehingga menciptakan alur melodi ritmis yang kompleks namun harmonis.
Apakah ada pola pakem tertentu?
Ya, Terbang Bancahan memiliki pola pakem yang menjadi pondasi esensial dalam permainannya. Dua pola yang paling utama adalah: Pola Kodokan: Ini adalah pola ritmik inti yang bersifat dinamis, cepat, dan repetitif. Pola ini melambangkan kegairahan dan semangat. Pola Turun: Berfungsi sebagai pola penutup atau kadens. Pola ini digunakan untuk menandai berakhirnya sebuah bait tembang atau transisi menuju penyelesaian lagu. Kedua pola ini harus dikuasai oleh setiap penabuh karena menjadi identitas pembeda Terbang Bancahan dengan terbang jenis lainnya. Meskipun ada improvisasi, improvisasi tersebut tidak boleh keluar dari koridor kedua pola pakem tersebut.
Apakah ada tembang khusus yang harus dibawakan?
Dalam pementasan Terbang Bancahan, terdapat repertoar atau daftar tembang yang bersifat khusus dan baku. Tembang-tembang ini biasanya dikategorikan dalam urutan tertentu, yang secara lokal sering kami sebut sebagai Bancahan I, II, III, dan IV. Ada beberapa karakteristik unik dari tembang-tembang ini yang perlu diperhatikan: Bahasa dan Syair: Syair yang digunakan merupakan perpaduan antara Bahasa Arab dan Bahasa Jawa. Contohnya, terdapat lirik seperti ‘Wa Muhammadur Ta’Ala Rosul’ yang dibawakan dengan teknik vokal khas pedesaan. Penggunaan dua bahasa ini mencerminkan identitas kesenian ini sebagai hasil akulturasi Islam-Jawa. Sistem Nada (Laras): Secara vokal dan musikal, tembang-tembang ini dibawakan dengan mengikuti Laras Pelog. Meskipun instrumen utamanya adalah perkusi (terbang) yang secara alami tidak memiliki nada pasti seperti bilah gamelan, para pemain vokal dan penabuh terbang berupaya keras mengarahkan frekuensi bunyinya agar selaras dengan estetika Pelog. Struktur Lagu: Setiap nomor (Bancahan I-IV) memiliki alur melodi vokal yang tetap dan didukung oleh pola ritmik yang menyesuaikan. Tembang ini tidak sekadar dibaca, tetapi ‘dilagukan’ dengan cengkok yang merupakan perpaduan antara gaya tilawah (mengaji) dan gaya nembang Jawa.
Buka Link Referensi Skripsi (Google Drive) Karya: Mohdi Yulianto Prabowo
Scroll to Top